Fault (Justin Bieber Short Story)

               Hitam nya langit Manhattan malam ini menjadi atap dari langkah-langkah kecil mereka. Genggaman erat jemari tangan Justin sedikit menghangatkan tubuh wanita nya yang nyaris beku.

“Sungguh, Bieb. Malam di musim salju bukanlah waktu yang tepat untuk berjalan bersisian di trotoar seperti ini.”

“Oh, ayolah, Eve. Apa kau tidak bosan hanya menghabiskan malam di depan perapian ? Lagi pula ini menyenangkan.” Justin mengedikkan bahunya ringan.

Eve mendengus pelan, “Apa kau tidak lihat ? Aku kedinginan! Dan, oh—sebentar lagi pasti tubuhku menjadi bongkahan es.”

               Justin semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Eve. Pria dua puluh empat tahun itu memeluk Eve erat, menenggelamkan kepala gadis itu pada dada nya yang bidang. Sebenarnya mereka akan menikmati coklat panas di cafe langganan mereka yang letaknya tidak terlalu jauh dari apartment Eve. Biasanya mereka akan menggunakan mobil untuk mempersingkat waktu. Tapi entah apa yang ada di pikiran lelaki itu hingga memilih berjalan kaki sekarang ini.

“Merasa hangat ?” tanya Justin. Eve mendongakkan kepala nya, tersenyum manis lalu mengangguk pada lelaki nya. Entah lah, semenyebalkan apapun, Eve tidak akan pernah bisa marah pada pria itu. Ia terlalu mencintai Justin.

“Seperti biasa.” Pesan Eve pada seorang pelayan ketika mereka mendapatkan tempat duduk yang dirasa paling nyaman di cafe itu. Pelayan berambut pirang itu mengangguk paham, lalu berjalan menuju dapur.

               Lima menit setelah nya, pesanan mereka pun datang. Sesaat, baik Justin maupun Eve sama-sama fokus pada coklat panas masing-masing.

“Sebenarnya, aku mengajakmu kesini juga untuk memberitahukan sesuatu.” Justin yang pertama bicara. Eve mengalihkan pandangan nya pada Justin. Gadis itu mengerutkan dahi nya, “Sesuatu ?”

Justin sedikit menegakkan duduk nya, “Yeah, seperti yang kau tau. Clark sedang mengandung anakku, dan besok aku harus menemani Clark memeriksa kandungan nya. Dan, setelah nya kami harus memeriksa dekorasi gereja untuk acara lusa. Jadi, aku tidak bisa mengantarmu dan Karma ke dokter hewan.” Ucap Justin. Karma adalah anak anjing peliharaan mereka. Pemberian Justin ketika mereka merayakan hari jadi hubungan mereka yang kedua tahun.

               Eve terdiam. Gadis itu menundukkan kepalanya. Perlahan, bulir-bulir itu pun mengalir bebas di pipi tirus nya. Diam-diam Eve mengutuk dirinya sendiri. Bodoh sekali. Bagaimana bisa ia lupa akan hal yang baru saja Justin ucapkan ?

               Dengan cepat ia mengusap kasar airmata di pipi nya. Kembali mendongakkan kepala nya, ia menatap Justin tepat di kedua bola mata hazel milik pria itu.

“Ya, tentu saja. Aku bisa membawa Karma ke dokter hewan. Sendiri.” Eve mengulaskan senyum tipis. Tentu saja senyum palsu yang bahkan sama sekali tidak membuatnya terlihat baik-baik saja.

**

               Hari ini adalah hari pernikahan nya dengan Clark. Justin terlihat murung sejak kemarin. Yang ia pikirkan hanya satu, Eve. Ia benar-benar merasa menjadi pria paling brengsek di dunia. Rasanya seperti ingin merebut mesin pengulang waktu milik Doraemon. Kalau saja bukan karna pekerjaan yang menumpuk dan alkohol sialan itu, pasti yang akan di nikahi nya saat ini adalah Eve, gadis nya.

               Sungguh, malam itu adalah malam petaka bagi Justin. Ia terlalu stressdengan pekerjaan nya sebagai CEO Bieber Company, lalu ia mencoba membuang stressitu dengan pergi ke klub malam dan meminum alkohol sebanyak mungkin. Akhirnya kesadaran lelaki itu hilang. Clark yang kebetulan duduk di bangku bar tender sebelah Justin dan sama-sama kehilangan kesadaran, berakhir dengan terbangun dalam satu selimut bersama Justin.

               Mereka—Justin dan Clark—sudah berdiri didepan pendeta. Siap untuk mengucapkan janji suci satu sama lain.

               Beralih pada Eve yang duduk manis di salah satu bangku di dalam gereja. Hatinya bergemuruh tak tenang menantikan kekasih nya menikahi wanita lain. Oh atau mungkin, setelah ini akan berganti menjadi mantan kekasih nya. ia tidak akan mungkin terus berhubungan dengan Justin sementara lelaki itu telah menjadi suami orang.

               Airmata nya kembali jatuh. Pertahanan nya runtuh. Sekuat tenaga ia berdiri dan bertepuk tangan saat menyaksikan ciuman kedua mempelai. Itu berarti, mereka sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Eve tersenyum. Tetapi juga menangis.

               Kini ia berdiri berhadapan dengan Justin. Mereka bersipandang selama sepersekian detik. “Selamat. Jaga Clark dan calon Bieber Junior. Aku janji akan menjadi aunty yang baik untuknya kelak.” Bisik Eve ketika ia dan Justin saling berpelukan. Erat. Eve menggigit bibirnya ketika dirasakan nya punggung nya basah. Apakah Justin menangis ? Benarkah ?

“I’m so sorry, Hun. It was my fault. I’m sorry. I love you so much.” Justin mengecup puncak kepala Eve. Setelah melepaskan pelukan mereka, Eve melepaskan cincin berlian yang melingkar di salah satu jari manis nya. Cincin pemberian Justin pada saat pria itu melamarnya di Italy, tepat satu tahun lalu.

               Ia menyelipkan cincin itu di telapak tangan kiri Justin, “Berikan cincin ini pada Clark. Ia yang lebih berhak mengenakan ini.” Eve tersenyum lagi. Perlahan, langkah nya menjauh. Ia akan pergi. Melepaskan Justin dengan hidup baru nya bersama Clark dan calon anak mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Haaaiiii. Apa kabar, Imajers ? Semoga selalu baik, yaa. Ini nih, aku bawain ini. Oh ya, kalo ada yang bukan Beliebers dan tanya, kenapa cast cowok nya Justin ? Jawaban nya adalah karena udah lama gak bikin short story a.k.a cerpen yang cast nya si ganteng itu. And of course, because im his true lover a.k.a Belieber. HAHA.

Awkay, jangan lupa kasih kritik dan saran nya yaa. Boleh lewat twitter : @saraschoirunisa atau BBM bagi yang punya pin nya, atau lewat sms bagi yang punya nomer nya, atau di kolom komentar juga boleh banget kok. Satu lagi, dua komentar terpanjang, terheboh, dan pastinya terpilih, bakal dapet gift dari eyke yaitu boleh request puisi tema nya BEBAS. Alright, see u soon, guys.Mwah:*