Kereta Kencana Dan kotak Jenazah

Hari ini aku bermimpi tentang kereta kencana yang mengangkut peti jenazah. Peti itu seperti terbuat dari batu pualam berukiran emas dan ditutupi sebuah sejadah berwarna hijau. Kereta kencana itu, berhenti persis didepan rumahku. Saat aku memasuki rumah, peti jenazah itu sudah berada dibawah, dari dalam rumah aku melihat ayahku sedang mempersiapkan diri untuk solat jumaat di masjid yang tidak jauh dari rumahku.
Lalu aku mempertanyakan tetang peti jenazah tersebut, kenapa bisa berada di depan rumah kami, dan makam siapa yang berada didalamnya. Dari tulisan kali grapi aksara arab yang aku baca disisi peti jenazah tersebut, tertulis nama Nabiyullah Yusuf Alaihi Salam.
Setelah aku perhatikan, aku langsung menjadi gemetar dan meminta kepada ayahku untuk melihat tulisan itu secara langsung. Dia juga memastikan bahwa nama yang tertera disisi peti jenazah tersebut merupakan baginda yusuf Alaihi Salam. Kami berdua kembali masuk kedalam rumah dan memperbincangkan kenapa hal tersebut bisa terjadi.
Ayahku menjawab jika peti mati itu benar baginda Yusuf Alaihi salam, maka jasad yang tersimpan selama puluhan ribu tahun itu, pasti tetap utuh. jasadnya tidak akan hancur dimakan tanah. Karena hal tersebut merupakan janji allah SWT, untuk memuliakan orang-orang yang telah diangkat derajadnya.
Kami berinisiatif untuk membuka langsung peti kotak batu itu. Setelah kami buka sejadah hijau yang terpasang diatasnya. Tertera tulisan kaligrapi lagi yang menyatakan keselamatan dan kesejatraan bagi penghuni yang berada didalamnya. Rencananya kami berdua akan memindahkan jenazah tersebut dan menyolatkan lalu menguburkanya kembali. 
Namun setelah dibuka ternyata memang jasad yang berada didalam peti tersebut tidak hancur bahkan masih utuh. Orang yang berada didalamnya sangat tampan dan bercahaya. Dia mengenakan sorban warna putih dengan corak mesir yang terdapat pada pengikat sorabanya, pakaian yang dikenakannya gamis berwarna putih dengan dobel rangkap warna krem. setelah kami perhatikan didadanya ternyata jasad tersebut bernapas, dia mengendus dan seakan hidup kembali bahkan berbicara.
Dia mengucapkan salam lalu berpesan akan meninggalkan wasiat untuk kami. Lalu dia meminta kami untuk memindahkanya dari dalam peti ke atas sebuah ranjang besar. Memang seluruh tubuhnya seperti berdebu, karena dia telah tidur ribuan tahun lamanya. Dia berkata akan beristirahat sejenak, sembil menunggunya bangun kembali, kami langsung pindahkan dia ke atas ranjang. Kami mendengar nafas yang dikeluarkannya semakin kencang.
Dengan posisi setengah bersandar pada punggungg belakang pada bantal, dan disoroti oleh cahaya yang keluar dari jendela menembus tirai kelambu yang terpasang pada ranjang. Tubuhnya semakin lama semakin pulih, pergerakan napas didadanya semakin kencang. kami yang mengelilinginya saat itu terkejut.  Dia berteriak sangat kencang sehingga membuat hati kami menjadi lebih bergemetar, “laillahailaullah,,,,, solat,,,,,nikmat rob mu, yang mana, yang kamu dustakan,” teriaknya yang bisa aku ingat sampai sekarang.
Dia membuka matanya lalu langsung bangun dari pembaringan dan nampak lebih gagah dari sebelumnya. Wajahnya semakin tambah muda, berjanggut tipis yang menyatu dengan jambang dikedua pipinya. Kepalanya masih ditutupi kerudung sorban, dia mulai berjalan dan menghampiri kami berdua.
Dia menarik kerah bajuku, dan mengajaku untuk berbicara. Aku tak paham apa yang akan dilakukanya padaku. Aku hanya merasa takut dan mengikuti apa yang akan dia perintahkan. Ternyata dia mengajaku duduk untuk berbincang-bincang.
Tanpa bertanya lagi dia langsung berwasiat, dengan dimulai kalimah lailahaillallah,,,,,dunia ini sudah sekarat, jangan percaya dengan dunia dan dia menyuruh aku bergabung didalam barisan kaum yang terdahulu.
Dia memperlihatkan aku gambaran barisan orang-orang yang sedang solat berjamaah dari bagian belakang hingga kedepan. Ternyata barisan itu dikomandoi oleh Umar bin Khotob dan dimakmumi oleh para sahabat nabi lainya. Aku memperhatikan barisan itu, dari kaki-kaki mereka yang berbalut celana berwana kecoklat-coklatan dan berdebu. Warna pakaian mereka pudar seakan telah berdir selama ribuan tahun untuk melaksanakan solat berjamaah.
Disitu aku melihat imam telah mengangkat kumandan takbir pertama, mereka solat diatas padang pasir dan dikiri kanan mereka terlihat ada beberapa tanaman saja. Aku tak mau ketinggalan dan langsung menyelinap masuk kebarisana mereka. Aku masuk kedalam barisan itu dan melakukan seperti apa yang sedang mereka kerjakan.
Lalu gambaran itu seakan ditarik kembali dan ternyata aku sudah kembali berhadapan dengan baginda yusup Alihi Salam yang mengajak aku bicara tadi. Tiba-tiba wajahnya sudah mendekat dan dihadapkan kepada wajah ku. Degan posisi berhadap-hadapan dengan jarak yang sanagt dekat ini, semakin membuat aku gentar dan lemas. Setelah aku melihat matanya, dia kembali mengatakan mengatakan.” Itukan yang kamu cari? kum pakabbirr ”
lalu aku mulai merengek dan menagis sekuatnya. Aku tak tahu apa yang bisa aku lakukan setelah diperlihatkan gambaran tadi. Aku tidak bisa membendung rasa malu ini, sepertinya kerinduan ini sudah mencapai puncaknya. Rasa gejolak didalam dada itu semakin meledak-ledak. Tak tahu apa yang bisa aku lakukan, Aku hanya bisa semakin berteriak sejadi-jadinya tanpa peduli apa yang ada dihadapanku sekarang ini.
 Dalam benakku hanya tergambar, keinginan kematian yang secepat-cepatnya. Aku sudah tidak bisa membendungnya,  aku sudah sangat tidak kuat lagu, aku sudah sangat malu bahkan sangat malu sekal, aku tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya ingin mati saja.
Lalu orang yang mendatangiku ini, langsung memeluku dan menpuk pundaku lalu mengatakan padaku untuk melanjutkan seperti biasa. Dia mengisyaratkan dengan tangannya, agar aku segera pergi dan melanjutkan rutinitas sehari-hari. lalu dia kembali tertidur lagi diatas ranjang yang disinari cahaya redup dari jendela.   
Sambari menyeka air mata, aku mendatangi ayahku yang saat itu hanya bisa menyaksikan pristiwa ini, lalu dia membacakan aku sebuah salawat nabi, untuk menghibur hatiku yang sedang terbakar. Mendengar lantunan salawat itu, emosiku semakin meluap-luap, lalu aku berlari sekencangan dari dalam rumah dan keluar rumah sambil menangis.
Setelah keluar dari pintu rumah, suasana saat itu langsung berubah dengan singkat. Kini pemandanganya menjadi padang sabana yang luas. di sini aku hanya sendirian berada pada puncak lembah yang hijau. Aku binggung mau kemana, aku berhenti menangis, sebari berdoa lalu aku melannjutkan langkah kaki dengan cara berlari. Tiba-tiba aku sudah kembali pada lorong sempit yang mirip dengan arah jalan rumah ku.
Ternyata aku sudah berada di ujung gank lorong itu, aku kembali kedalam rumah dan melihat sudah tidak didapati lagi kereta kencana beserta isinya. Etah kenapa pandangan itu langsung pudar dan membangunkan aku dari tidur dengan penuh keringat.