Menyingkap tabir PT BEST AGRO INTERNASIONAL, dari budaya kekerasan fisik dan penganiayaan berat hingga pelenyapan nyawa puluhan warga Wonosobo


Menyingkap tabir PT BEST AGRO INTERNASIONAL, dari budaya kekerasan fisik dan penganiayaan berat hingga pelenyapan nyawa puluhan warga Wonosobo
Hampir  setiap hari ada saja karyawan PT Best Plantations terutama PT TASK 03 yang bernaung di bawahnya. Mereka melarikan diri dan kabur begitu saja dari perkebunan sawit .  Berbagai spekulasipun bermunculan.  Dari penuturan karyawan secara acak, kebanyakan mereka mengalami kekerasan fisik dan penelantaran  selama bekerja sehingga lebih memilih kabur ketimbang harus bekerja di sarang harimau, begitui menurut mereka.
Sementara itu warga di sekitar PT TASK 03 begitu prihatin dengan angkutan massal kendaraan truk kelapa sawit yang masih terus beroperasi hingga kini,  mengingat  peristiwa kecelakaaan tragis yang menewaskan puluhan warga, yang sebagian besar warga kabupaten Wonosobo oleh sebab angkutan yang di gunakan adalah truk angkutan kelapa sawit terbuka,  yang notabene musti tertutup rapat di pintu belakangnya, bisa  di bayangkan bagaimana mesin pencabut nyawa itu berjalan. Truk yang seharusnya di peruntukkan untuk mengangkut tandan sawit itu jatuh tertelungkup kedalam lubang parit yang kedalamannnya bisa  mencapai sepuluh meter.

berikut di kutip dari harian Tempo

 
– Sebuah truk pengangkut calon karyawan sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit terbalik dan tertelungkup masuk parit berlumpur sedalam 8 meter di Desa Jemaras, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kalimantan Tengah), tadi malam, Jumat, 23 September 2011, sekitar pukul 23.00 WIB. Akibatnya, dari 34 penumpang yang kebanyakan berasal dari Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, ini sebanyak 14 orang tewas dan 20 orang selamat.

Polisi saat ini telah mengamankan barang bukti, yakni truk bernomor polisi KH 8415 FA. Sopir berinisial ED juga sedang dimintai keterangan di Markas Kepolisian Resor Kabupaten Kotawaringin Timur.

Kepala Kepolisian Resor Kabupaten Kotawaringin Timur Ajun Komisaris Besar Abdul Hasyim ketika dikonfirmasi per telepon, Sabtu, 24 September 2011, mengatakan saat ini ke-14 jasad korban truk terbalik sudah berada di kamar mayat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Murjani, Sampit.

“Kami sekarang ini sedang melakukan pendataan nama-nama korban dan nanti bila sudah selesai akan segera memasukkannya ke dalam peti untuk kemudian diterbangkan ke daerah asal mereka di Jawa dengan pesawat besok (Minggu) melalui Bandara Sampit,” ujarnya.

Menurut Abdul Hasyim, 14 korban tewas ini merupakan bagian dari rombongan calon pekerja yang direkrut sebuah perusahaan kelapa sawit yang beroperasi di Kabupaten Kotawaringin Timur.

Awalnya, puluhan karyawan yang kebanyakan berasal dari Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, ini datang ke Kalimantan Tengah melalui Pelabuhan Laut Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat. Setelah itu, dengan menggunakan bus umum mereka menuju Kabupaten Kotawaringin Timur. Sesampainya di Desa Lubuk Ranggan, Kotawaringin Timur, rombongan ini berganti kendaraan dengan milik perusahaan, yakni sebuah dump truck dan minibus.

Kecelakaan yang merenggut nyawa pekerja perkebunan sawit di Kotawaringin Timur hingga mengakibatkan puluhan tewas ini merupakan yang kedua kalinya. Dua tahun lalu, tepatnya 20 Agustus 2009, sebuah dump truck milik PT Tanah Mas juga terbalik di Kecamatan Telawang, Kabupaten Kotawaringin Timur, sehingga mengakibatkan 25 karyawan mereka yang kebanyakan berasal dari NTT, NTB, dan Bima, tewas.
  Secara nalar mereka sebenarnya ingin keluar dari truk maut tersebut, tetapi apa daya, mereka seperti terkurung di dalam sangkar besi kemudian di tenggelamkan secara perlahan. Mesin kematian itu adalah yang paling tragis sepanjang sejarah dalam satu dasa warsa terakhir di kabupaten Kotawaringin Timur.  Ironisnya pemerintah daerah sepertinya hanya bisa menonton tanpa bisa berbuat banyak bagi kesejahteraan warga sekitar, sehingga wajar jika sering terjadi benturan antara warga sekitar dengan pihak perusahaan.  Demikian di beritakan di AFP/org indo