Mimpi Adalah Obsesi

Seringkali orang mengatakan bahwa mimpi itu adalah bunganya orang tidur. Adalagi yang mengatakan” Jangan percaya dengan mimpi”, karena bisa menyebakan syirik. Nabi Muhammad S.a.w membagi mimpi menjadi dua bagian (1) Mimpi yang bagus (al-Ru’ya al-Hasanah) (2) al-Ru’ya al-Sayyi’ah (mimpi yang jelek), istilah hadisnya” al-Hulm”.
Di dalam sebuah hadis Nabi menuturkan dengan panjang lebar terkait dengan sebuah mimpi, sebagaimana keterangan hadisnya.
« الرُّؤْيَا الْحَسَنَةُ مِنَ اللَّهِ ، فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يُحِبُّ فَلاَ يُحَدِّثْ بِهِ إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ ، وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَلْيَتْفِلْ ثَلاَثًا وَلاَ يُحَدِّثْ بِهَا أَحَدًا فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ (رواه البخاري)
Artinya:” Mimpi yang bagus berasal dari Allah SWT, jika di antara kalian bermimpi sesuatu yang bagus (disukai), jangan sekali-kali menceritakan kepada yang lain, kecuali pada orang yang engkau sukai (dipercaya). Jika di antara kalian bermimpi sesuatu yang tidak engkau sukai, maka mohonlah pertolongan Allah dari kejelekan mimpi itu, dan juga dari kejelekan syetan, dan meludahlah tiga kali (ke-kiri), selanjutnya tidak diceritakan kepada siapapun perihal mimpi itu. Niscaya mimpi itu tidak akan berpenggaruh.[1]
Di dalam keterangan hadis lain, Nabi S.a.w menuturkan bahwa sesungguhnya mimpinya orang-orang sholih adalah setara dengan mimpinya kenabian (H.R Bukhori)
Mimpi itu sangat penting, dan jangan sampai meremehkan sebuah mimpi. Jika yang bermimpi orang-orang sholih, rajin beribadah, dan menghindari beragam maksiat, sudah barang tentu mimpi itu merupakan sebuah isarah (sinyal) penting dari tuhan. Sebab, orang-orang Sholih itu sinyalnya sangat kuat dan nyambung terus dengan Allah SWT selama 24 jam, baik ketika sedang sholat atau di luar sholat.
Oleh karen itu, sebagian orang-orang penting di Negeri ini, banyak yang memburu orang-orang yang dekat dengan tuhan. Karena mimpinya merupakan sinyal yang bagus, apalagi do’anya. Sudah tentu do’anya itu mampu membuka pintu langit yang kuat dan rapat. Tuhan-pun berkenan mengabulkan semua permintaan dan permohonan orang sholih itu, karena Allah selalu dekat, dan orang sholih itu juga dekat dengan-Nya.
Hanya saja, orang Sholih itu tidak ada tanda-tanda khusus sebagaimana yang terlihat dipermukaan. Seperti memaki jubah panjang, jengotnya juga panjang, celananya tinggi, atau sorbanya selalu melekat dileher, lengkap dengan kopyahnya. Kadang, orang yang sholih itu memakai sarung yang nglinting (kusut), kopyahnya juga blutuk (mangkak atau kusam) seolah-olah tidak pernah dicuci. Bukan berarti yang memakai jubah, lengkap dengan aksesiorisnya itu hanya sekedar penampilan. Ada juga diantara mereka yang sholih, atau hanya berpenampilan atau menampakkan perforemen sebagai seorang muslim, atau sebagai siar islam.
Mimpi-mimpi orang sholih itu adalah isarah tuhan secara langsung. Kebersihan hatinya, serta ketulusannya itu, membuat dirinya dekatnya dengan tuhan. Setiap memberikan pertoongan, tidak pernah minta imbalan, ini juga membuat dirinya tahu akan isarah-isarah yang tidak terlihat oleh banyak manusia pada umumnya. Tapi, mereka juga tidak pernah mengobral sinyal itu kepada siapapun, seperti lewat Infotaimen, iklan, atau wartawan, sebagaimana para konsultan spiritual dan para normal lainya. Mereka hanya membacakan fenomena langit (isarah) lewat bahasa majasi kepada orang yang dapat dipercaya (amanah).
Masih terkait dengan mimpi. Di dalam sebuah anekdot, seorang laki-laki sejati tidak boleh menikah, jika belum pernah bermimpi. Karena, jika belum pernah bermimpi, tandanya belum baligh. Dan syarat mutlak menikah bagi lelaki ialah ‘‘baligh’‘, itulah hebatnya mimpi bagi kaum laki-laki.
Makna Mimpi di dalam al-Qur’an.
Di dalam al-Qur’an, Allah sering memberikan sinyal kepada para Nabi, dan utusan-Nya, lewat sebuah mimpi. Para ulama’ sepakat bawah mimpi itu bermakna wahyu, sebagaimana mimpinya Nabi Ibrahim, Nabi Yusuf, Serta baginda Nabi S.a.w. Dan banyak lagi Nabi, atau para kekasih-Nya, diberikan sinyal (isarah) lewat sebuah mimpi.
Di sini, saya akan menceritkan seputar mimpinya Nabi Yusuf a.s, sebagimana diceritkan dalam al-Qur’an. Suatu ketika, Yusuf bermimpi, bahwa ia melihat, seakan-akan sebelas bintang, matahari dan bulan yang berada di langit turun dan sujud di depannya. Terburu-buru setelah bangun dari tidurnya, ia datang menghampiri ayahnya , menceritakan kepadanya apa yang ia lihat dan alami dalam mimpi.
Ingatlah ketika Yusuf berkata kepada ayahnya : “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan, kulihat semuanya sujud kepadaku“. 5. Ayahnya berkata: “Hai anakku ,jgnlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudar-saudaramu, maka mrk membuat muslihat {utk membinasakanmu} .Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” 6. Dan demikianlah Tuhanmu memilih kamu {utk menjadi Nabi} dan diajarkannya kepada kamu sebahagian dari takdir mimpi-mimpi dan disempurnakannya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmatnya kepada dua orang bapamu sebelum itu, {iaitu} Ibrahim dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. 7. Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada {kisah} Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang yang bertanya. 8. {Iaitu} ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya {Benyamin} lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita {ini} adalah satu golongan {yang kuat} .Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.” 9. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah {yang tidak dikenal} supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik.” 10. Seorang daripada mrk berkata: “Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah ia ke dalam perigi, supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir jika kamu hendak berbuat.” [2]
Ternyata, mimpi itu membuat saudara-saudaranya tidak suka. Alasanya, (1) mereka menangkap sinyal bahwa Yusuf kelak akan menjadi orang besar (raja). (2) alasan yang berikutnya, kedekatan Yusuf dan Ayahnya membuat mereka merasa iri, tidak ada cara lain kecuali harus membunuh.
Untuk mengagalkan impian Yusuf, agar tidak menjadi seorang Raja. Saudara-saudaranya, mengadakan pertemuan, untuk merancangkan strategi jahat terhadap adiknya. Kala itu, Yusuf tidak mengetahui apa di rencanakan atas dirinya. Hingga suatu ketika, saudara-saudaranya mengajak bermain-main, kehutan. Sang Ayah khawatir, lagi-lagi saudaranya menyakinkan bahwa mereka akan menjaga adik dengan sebaik-baiknya.
Ternyata, mereka membuang Yusuf, dengan meletkkan di dalam sebuah lubang, dan ditemukan oleh seorang saudagar. Hingga masuk disebuah istana, yang akhirnya ketika tumbuh dewasa menjadi lelakin yang tampan rupawan. Kan tetapi, cobaan demi cobaan, silih berganti, tetapi semuanya itu tidak membuat Yusuf putus asa. Yusuf tidak pernah tergoda dengan apapun, baik materi, jabatn, atau wanita yang merayunya, sebelum mewujudkan mimpi tersebut. Benar, pada ahirnya Yusuf memperoleh posisi yang sangat tinggi, dengan tidak mengurangi kepribadian dirinya. Semua saudara-saudaranta yang pernah berbuat jahat dimaafkan, dan diberikan posisi untuk membangun Negara bersama-sama.