Penjagaan Untuk Seorang Hamba yang Ikhlas


Mukadimah tentang ikhlas selalu di bahas agar tak pernah terlupa dari perjalanan hidup manusia. Penghambaan yang rutin kepada Allah SWT ternyata belum cukup, bahkan hingga sunnah terlengkapi sekalipun jika tak di selipkan rasa ikhlas di dalamnya.
                Lalu apakah ikhlas tersebut ?
Yang selalu di gadang-gadang menjadi wujud kecintaan kepada sang Pencipta pada tingkat tertinggi.
“Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui ? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” (QS Ali Imran ; 66)
*
                Terkisah seorang pemuda dengan paras yang garang dan tubuh yang tinggi tegap bernama Arras. Arras sering ketahuan teman satu kampusnya berkelahi di jalanan dengan preman, duduk-duduk di sekitar anak jalanan, sering membolos dan sering berhutang di warteg milik Ratih.
                Ratih sangat membenci Arras, karena Arras lah ibu dan bapaknya sering mengeluh bahwa pengeluaran seringkali lebih besar daripada pemasukan. Walaupun sebenarnya jika di ingat, ada saja rejeki yang membuat keluarga Ratih tak kekurangan. Tapi tetap saja, akan lebih baik jika Arras membayar semua hutangnya yang sudah menumpuk.
                Suatu hari Ratih mengikuti sebuah Kajian di kampusnya, di suatu kesempatan bertanya seorang ikhwan menunjuk tangan pada ustadz. Karena akhwat dan ikhwan di batasi hijab, Ratih tak bisa mengetahui siapa yang bertanya. Si ikhwan itu juga tak mau menyebutkan namanya, hanya jurusan dan program studinya saja yang ia sebutkan.
                Namun pertanyaannya sangat menyentuh hati Ratih, dan membuat akhwat itu penasaran sebenarnya siapa ikhwan yang jurusan dan prodinya sama dengan dia, yakni Ekonomi itu. Gelisah hati Ratih, ia harus tau siapa ikhwan yang memiliki pertanyaan paling berbobot yang pernah ia dengar.
                Ikhwan itu bertanya soal ikhlas…
                Dan mampu membuat Ratih secara tiba-tiba teringat dengan apa yang Arras lakukan padanya. Saat itu juga ia memutuskan mengikhlaskan semua hutang Arras pada keluarganya. Ia berpikir, mungkin Arras belum punya uang untuk membayarnya.
                Beberapa minggu setelah Kajian, tidak ada keluhan lagi saat Ratih melayani Arras yang lagi-lagi berhutang. Dan itu membuat Arras heran,
                “Ratih, kamu sehat ? Tumben tidak meneriaki aku lagi karena berhutang terus” Arras melahap tempe goreng sambil memperhatikan Ratih yang dengan cekatan membungkus tiga nasi rames pesanannya di lengkapi senyuman.
                “Walah ! Sekarang malah senyum, waduh kamu ini kenapa ? Ada yang sudah lunasin hutangku ya ?”
                “Aku sudah masa bodo sama hutang kamu ras. Terserah mau bayar atau nggak”
Arras pergi dengan terheran-heran, sedangkan ibu dan bapak Ratih yang melihat itu menjadi sangat kesal dan memarahi Ratih karena tidak terima dengan kalimat Ratih yang menyakitkan mereka. Tentu saja itu semua karena Ratih ingin mengikhlaskan semua hutang Arras yang totalnya hampir satu juta.
                Tapi entah kenapa ada yang membuat Ratih yakin, dengan keputusannya mengikhlaskan hutang Arras. Keputusan Ratih itu membuat Ratih harus diam di rumah saja dan tak di perbolehkan lagi membantu ibu bapaknya berjualan.
                Ratih yang sedih dan bosan keluar mencari udara segar, namun yang ia temui malah perkelahian yang di lakukan Arras dengan preman terminal yang biasa memungut uang sewa ke usaha keluarga Ratih. Ratih menghampiri Arras yang berlumuran darah dan preman yang babak belur berlari terpincang pincang menghindari Arras.
                Ratih marah besar, “ Ternyata saya salah merelakan makanan untuk orang yang menjadi penadah preman preman itu ras !”
                Arras yang berdarah-darah hanya diam dan berkata dengan tenang, “Saya akan bayar semua hutang saya, beri saya waktu”
                “Tidak perlu ! Saya dan keluarga tidak menginginkan uang haram kamu.  Semoga Allah memberikan kamu hidayah dan membuat kamu bertaubat !”
                Begitulah Ratih, ia tak bisa mengendalikan emosinya. Ratih lalu memohon ampun pada Allah di masjid besar jauh dari rumahnya, ia tilawah berlembar-lembar untuk menghapus kekecewaannya terhadap Arras, ia solat isya dan solat sunnah hingga tak terasa jam telah menunjukan pukul 22.00.
                Dengan mata yang bengkak karena menangis, Ratih berjalan pelan menuju rumahnya. Di tengah jalan, samar-samar ia melihat preman terminal yang tadi berkelahi bersama Arras. Mereka menghadang Ratih yang sangat ketakutan. Namun lagi-lagi pertolongan Allah menghampiri seorang hamba yang telah ikhlas. Meski ia sangat kecewa dengan Arras tadi, namun herannya Ratih tetap ikhlas. Dan tiba-tiba gerombolan anak jalanan datang dan melindungi Ratih dengan jurus jurus beladiri yang mengagumkan. Preman itu kabur dan anak anak jalanan  mengantarkan Ratih selamat sampai rumah.
                
 Di rumah, Ratih termenung mengingat cerita anak-anak jalanan itu selama perjalanan..
                “Waktu lihat yang diganggu sama preman itu Kak Ratih, kita langsung serbu deh pake jurus beladiri.”
                “Iya jurus beladiri yang di ajarin Kak Arras !”
                “Kak Ratih kan udah kasih kita makan setiap hari, jadi kita harus lindungin kak Ratih !”
                “Kak Arras bilang kak Ratih itu baik banget, kalo nggak ada kak Ratih kita nggak mungkin bisa kenyang setiap hari”
                “Heh kak Arras juga baik !,  kalo nggak ada dia nggak mungkin kita bisa lepas dari bang Baron, si preman kejam yang sering maksa kita cari duit, nggak mungkin kita bisa bela diri kalo tiap hari Kak Arras gak bolos kuliah.”
                “Iya loh, kak Ratih emang gak tau, kalo nggak ada Kak Arras mana mungkin warteg Kak Ratih masih aman berdiri di situ, pasti udah di jarah setiap hari sama preman preman. Warung makan yang lain juga tuh, nggak mungkin bisa jualan dengan tenang”
                “MasyaAllah jadi selama ini… Arras…”
                Berhari-hari Ratih mencari Arras di kampus, maupun di terminal. Tapi pemuda berpenampilan begajulan itu tidak ada dimanapun. Hingga suatu siang ba’da Jum’at yang cerah, rombongan mobil hitam datang dan berhenti tepat di depan rumah Ratih. Turunlah Arras dengan koko putih dan celana hitam yang bersih dan rapih. Ia mencukur rambutnya dan jambangnya, menyisakan hanya janggut tipis di bawah bibirnya.
                Hari itu, Ratih sangat senang sekaligus bergetar. Dia sangat terkejut saat dengan penuh kesungguhan,  Arras melamarnya. Arras yang selama ini ia pikir pemuda begajulan, tidak punya masa depan, tidak punya keterampilan ataupun hal lain yang bisa di banggakan datang ke rumahnya dengan niat yang sangat mulia.
                Tanpa kata-kata Arras membuat Ratih mengerti apa itu arti ikhlas. Tanpa ingkar, Arras menepati janjinya untuk membayar semua hutang yang ia miliki pada Ratih dengan melamarnya beserta keluarganya.
                Tanpa doktrin pun Arras mengajarkan Ratih bagaimana cara beramal tanpa satupun penduduk bumi mengetahui amalan itu. Amalan rahasia yang telah Ratih kerjakan bertahun tahun, ternyata adalah alasan selama ini keluarganya di beri banyak kemudahan. Lewat Arras, amalan Ratih mengalir dengan sebuah keikhlasan. Ratih hanya bisa tersenyum, ia baru mengerti tentang seperti apa cara hidup penuh keikhlasan seperti yang selalu Arras lakukan secara rahasia. Dan ia berjanji tak akan pernah lagi suudzon kepada orang, ataupun melihat orang lain dari covernya saja.
Karena Arras,  Ratih akan selalu melihat seseorang dari hatinya.
                Ratih pun menerima lamaran Arras, mereka menikah dan membuat sekolah untuk anak jalanan dan koperasi usaha kuliner kecil di sepanjang terminal.