TERSANDUNG MOTIVATOR

Tersandung tidak selamanya buntung tetapi dalam kasus saya tersandung justru jadi untung. Setiap orang pasti mempunyai potensi untuk menjadi “gravitasi” bagi lingkungan di sekitarnya. Baik dalam hal pekerjaan, pendidikan atapun dalam hubungan pertemanan. Sejak kecil saya tidak pernah bermimpi atau ingin menjadi motivator tetapi tampaknya jalan hidup saya berkata lain.

Ketika kelas III SMA di tahun 2006, ada seorang teman bernama Barnes. Meski kami bersama sejak kelas II, namun saya tidak terlalu dekat dengannya. Selain pendiam, Barnes juga terkenal akan predikatnya sebagai “juara membolos”. Bahkan saking kesalnya, Pak Harno selaku guru matapelajaran Ekonomi kami sampai melarang Barnes untuk mengikuti kelasnya.

Karena itu, saya sangat heran ketika Ibu Elly selaku wali kelas mendatangi saya dan berkata, “Ade, tolong kamu bantu Barnes ya”.  Saya sangat terkejut saat itu, bagaimana mungkin Bu Elly sang wali kelas memilih saya? Kenapa tidak teman dekatnya Barnes yang ditunjuk? Namun, kepercayaan yang diberikan wali kelas mendorong rasa tanggung jawab dalam diri saya.

Sebuah pertanyaan besar muncul dalam pikiran saya saat itu. Bagamana saya harus membujuknya agar mau kembali bersekolah? Saya tidak punya pengalaman memotivasi orang, tidak pernah membaca buku-buku motivasi, tidak pernah pula mengikuti pelatihan motivasi. Lagipula saya tidak terlalu dekat dengannya. Hal kedua yang saya bingungkan, dia adalah seorang siswa yang pendiam. Selama ini saya hampir selalu mati gaya jika bersama orang pendiam. Tetapi akhirnya saya tetap mencoba.

Untungnya kami mulai ditempatkan dalam kelompok belajar yang sama, pelan-pelan kami mulai dekat.  Sejalan dengan tumbuhnya persahabatan di antara kami, saya melakukan sebuah keputusan yang sangat kontroversial, ketika saya memasukkan Barnes sebagai anggota tim dalam perlombaan Olimpiade SPMB di Universitas Airlangga. Sontak berita tersebut menimbulkan kehebohan di sekolah, terutama di kalangan guru. Bagaimana mungkin Barnes yang hampir tiap hari bolos sekolah, pendiam, dan salah satu siswa dengan peringkat 10 besar terbawah di kelas, dengan percaya diri mau mengikuti olimpiade, begitu kira-kira pendapat publik.

Namun, saya tetap pada keputusan awal, memasukkan Barnes sebagai anggota tim. Benar, Barnes yang pendiam itu memang hampir setiap hari bolos sekolah. Benar, Barnes adalah salah satu siswa dengan peringkat 10 besar terbawah di kelas. Tapi satu hal yang tidak mereka pahami, Barnes sangat pandai dalam matapelajaran Bahasa Inggris. Dan perlombaan tersebut menggunakan Bahasa Inggris. Ketika perlombaan, kami berbagi tugas. Saya menyelesaikan soal sedangkan Barnes berperan sebagai penerjemah. Meskipun pada akhirnyan tim kami memang belum berhasil meraih juara tetapi kami tetap bangga karena berhasil menjadi salah satu tim tersolid dan lolos ke semifinal dengan menyisihkan ratusan tim dari berbagai SMA di Jawa Timur.

Masih tentang Barnes yang terkesan negatif di mata orang-orang, tidak demikian bagi saya. Barnes ternyata amat baik dan setia kawan. Dia sering mengantar saya pulang, padahal seharusnya saya berjalan kaki sejauh 1 kilometer dari gerbang sekolah ke jalan raya. Dan Barnes-lah yang  membantu saya untuk mencetak makalah di rumahnya ketika saya akan mengikuti Olimpiade Ekonomi di Universitas Brawijaya.

Menurut saya, duduk di kelas III SMA merupakan masa yang sangat rawan karena kami akan menghadapi ujian nasional, kemudian dilanjutkan dengan seleksi masuk Perguruan Tinggi yang sangat ketat.

Pada akhirnya, saya dan rekan saya Barnes berhasil lulus SMA dengan nilai yang memuaskan. Suatu siang Barnes datang menghampiri saya dan berkata, “De, kamu ingat kalimat yang pernah kamu sampaikan ke aku?”. Saya jawab, “Kalimat apa Nes?”. Barnes kembali menyahut, “Waktu itu kamu bilang, Nes, kalau kamu ingin nakal nanti setelah lulus SMA. Tahan dulu sampai kita selesai ujian nasional. Setelah itu terserah kamu. Kasihan orangtuamu. Terima kasih ya De. Kalimat tersebut benar-benar memotivasiku”. Di situ saya merasa sangat senang. Ternyata saya bisa memotivasi orang lain. Dan yang lebih penting, saya memperoleh seorang sahabat baru. Kepercayaan diri saya pun semakin tumbuh.

Teman saya Barnes bersama anak, istri, dan keluarganya

Kisah tersandung motivator pun berlanjut di bangku kuliah. Banyak teman-teman kuliah yang sering curhat dan meminta saran kepada saya, dari mulai rekan satu angkatan, adik kelas bahkan kakak kelas. Materi curhat pun beraneka ragam. Mulai dari masalah perkuliahan, keluarga sampai masalah asmara. Ini yang kadang membuat saya heran dan juga bingung. Bagaimana mungkin mereka minta saran dari saya sedangkan saya sendiri tidak berpengalaman dalam hal asmara. Di sini saya merasa seperti orang jualan obat. Berkoar-koar obat yang saya jual mujarab padahal saya sendiri belum pernah memakainya.

Tersandung menjadi motivator merupakan sebuah kecelakaan yang indah bagi saya. Namun, banyak hal positif yang saya dapatkan. Kita tidak seharusnya menilai seseorang hanya dari sampulnya saja. Pasti ada sisi baik dari setiap orang yang kita kenal. Pengalaman Barnes menunjukkan hal ini. Begitu kami lebih dekat, ternyata banyak sisi positif dari dirinya. Bahkan sebagai bonus, saya mendapatkan seorang sahabat baru.

Saya bangga karena berhasil menjadi “gravitasi” bagi teman saya Barnes. Berhasil membujuk teman sekelas yang hampir saja mengalami drop out. Saya juga bangga saat 2 tahun lalu bertemu Barnes mengatakan bahwa dirinya berhasil menjadi seorang manajer di sebuah perusahaan kontraktor di Surabaya. Bahkan secara pribadi Mamanya mengucapkan terima kasih kepada saya karena dulu pernah membantu anaknya. Sebuah kepuasan yang tidak dapat diucapkan dengan kata-kata. Sebuah kepuasan saat kita mempunyai andil dalam kesuksesan orang lain.

Salah satu kunci keberhasilan saya saat itu adalah karena adanya komunikasi. Komunikasi yang baik antara saya dengan teman saya Barnes. Begitu pula dengan kondisi saat ini, komunikasi yang baik antara kita dengan keluarga, pasangan, teman ataupun rekan bisnis menjadi salah satu kunci bagi kita dalam mencapai kesuksesan. Kehadiran Luna Smartphone bisa menjadi solusi untuk menunjang komunikasi yang baik tersebut. Dengan desain dan kemampuan yang menyeimbangi iPhone-6, Luna Smartphone mempunyai body elegan dengan kamera yang menawan. Akses internet yang digunakan sudah 4G LTE yang akan membuat aktivitas bersosial media kita menjadi lebih lancar. Menariknya, untuk keamanan Luna Smartphone khususnya tipe MX8 telah mengusung finger print scanner. Dan semua fasilitas tersebut bisa kita dapatkan dengan harga yang cukup terjangkau.

 

#BeTheGravity #SmartphoneLUNA